Bicara Sutera, berarti bicara keindahan dan kemewahan. Dengan kekuatan, ketahanan dan daya resap yang luar biasa, menjadikan jenis Bombyx Mori ini menjadi begitu istimewa bagi khalayak dunia. Usutnya benang yang dibawa dari Tiongkok dan disebarkan ke kerajaan Romawi hingga menyebar ke seluruh Eropa, ternyata memiliki sejarah besar juga bagi Indonesia.

Ulat Sutera yang diboyong oleh bangsa Belanda sejak tahun 1718 ke Indonesia, membuat ulat ini menjadi kekayaan sumber hayati nusantara. Mengalami proses panjang selama berabad-abad, kain yang di dayagunakan dengan proses Telaten ini, membuat Indonesia sebagai negara yang dipercaya menjadi wilayah dengan hasil sutera ternama.

Namun ada yang tidak lazim, kalau sutera pada umumnya dihasilkan berwarna putih, ternyata ada jenis lain dengan nama ilmiah; Cricula Trinfenestrata atau disebut ulat sutera Emas. Ulat ini banyak ditemukan di daerah Jatiroto dan Jatisrono, Wonogiri. Namun tidak menutup kemungkinan bila ulat ini tersebar selain di wilayah tersebut.

Sempat menjadi perbincangan bahwa Cricula ini dianggap sebagai hama karena pertumbuhan ulat ini bisa dibilang merugikan pada pohon jambu mete berskala besar. perkembangannya saat musim hujan, membuat Pohon tersebut kehilangan daun sampai 50% akibat serangan Cricula, jumlah putik jambu mete menurun 37%, tetapi bila kehilangan daun sampai 100% atau gundul, tanaman tidak akan menghasilkan putik dan kondisinya baru akan pulih 18 bulan kemudian.

Namun berjalannya kesadaran masyarakat, Kokon (pembentukan dalam fase kepompong) menjadi komoditi untuk pengolahan benang sutera dengan warna emas. dengan proses pemintalan hingga ke Finishing dalam wujud benang, alhasil Sutera emas ini hadir dengan kain Special Edition dengan harga 1 Juta Rupiah per kilogramnya. Dan dengan keindahannya tersebut, Jepang adalah salah satu negara yang membiakan Cricula juga. Lain halnya dengan Indonesia yang berkembang biak secara alamiah, Jepang menganggap benang ini menjadi sesuatu yang eksklusif karena digunakan sebagai bahan kain Kimono salah satunya.AMD/Nug (photo : Alex Hyde)

Sumber : mediatamabinakreasi.com